Bertani Dan Berbahagia

Administrator 17 Mei 2017 21:45:57 WIB

Oleh : Eko Susanto, S.E - Kasi Kesejahteraan Desa Rejosari

Profesi sebagai petani adalah sebuah profesi yang mulia, bagaimana tidak, nasi yang kita makan setiap hari berasal dari beras yang dihasilkan oleh para petani. bahan pangan lain termasuk sayur mayur juga dihasilkan oleh para petani. Jika dinilai dengan poin tentu sudah banyak poin yang dihasilkan para petani. Akan tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa petani itu susah untuk sejahtera hidupnya, bahkan di desa saya bisa dikatakan petani ibarat bak makan buah simalakama, punya sawah bila tidak ditanami tidak bisa makan, bila ditanami hasilnya tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan bahkan cenderung merugi. Akan tetapi anehnya mereka tidak akan kapok untuk bercocok tanam kembali walaupun sebenarnya secara hitung-hitungan rugi. Pertanyaan besar saya adalah apa sebenarnya yang menjadi faktor utama ketidaksejahteran para petani atas hasil bercocok tanam mereka selama ini.

Inilah yang menggerakan hati saya untuk bereksperimen untuk mencari kebenaran fakta-fakta tersebut diatas. Maka mulailah saya garap lahan "lungguh" yang menjadi hak saya selama menjabat di pemerintah desa, lahan seluas kurang lebih satu hektar tersebut saya tanami padi sebagaimana para petani lain bercocok tanam di musim ini. Dengan minimnya pengetahuan pertanian dan juga minimnya kemampuan mengayun pacul sudah tentu semua harus diatur dengan uang. Nah, disinilah mulai saya rasakan bagaimana peran modal uang sangat penting dan menyebabkan petani yang rata-rata bermodal cekak harus berhutang dahulu untuk modal bercocok tanam. Upah tenaga kerja, pupuk, bibit dan obat-obatan sangat menyedot pengeluaran sedangkan menunggu panen ibarat perjudian, hingga masa panenpun masih ditambah variabel biaya lain musti dikeluarkan.

Panen musim ini menjadi panen pertama saya, 1,3 ton gabah dari sawah langsung saya jual ke tengkulak dengan harga 3500/kg. Harga yang saya pikir terlalu rendah untuk jerih payah, tenaga dan pikiran selama ini. Tapi apalah daya sebagaimana hukum bisnis, stok banyak maka harga turun. Dan, saat itung-itungan pun dimulai dengan hasil kesimpulan hasil tidak sebanding dengan modal alias rugi, iya rugi.., jadi kesimpulan saya menjadi petani itu sebaiknya tidak dianggap sebagai mata pencaharian, anggaplah sebagai hobi, kalau ada hasinya ya sukur kalo gagal dan merugi anggaplah sebagai ketidakberuntungan saja jadi tidak terlalu sakit hatilah kalau gagal panen.

Ya itu sekedar opini saya yang sok jadi petani ini, yang sebenarnya itulah profesi, untung rugi tetap dijalani dengan sukacita dan sepenuh hati. karena pada dasarnya negara kita ini adalah negara agraris pola pertanian ini tentu warisan dari para leluhur yang harus tetap lestari. jauh meninggalkan urusan untung rugi apalagi gengsi. wong ibarate orao duwe duwit ora popo sing penting neng ngomah gabahe iseh tumpuk-tumpukan..

Sejahteralah Petani Indonesia!

Komentar atas Bertani Dan Berbahagia

Eko Susanto 18 Mei 2017 09:17:50 WIB
Hahaa..siap Pak Aris, Lanjutkan
Aris S 18 Mei 2017 03:54:29 WIB
Aja kapok Pak Santo, nikmati bertani. Lain waktu semoga beruntung & berkah...

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

TwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung

Lokasi Rejosari

tampilkan dalam peta lebih besar